Rabu, 16 Mei 2012

Letusan Krakatau yang Melegenda

Gunung Krakatau atau orang Barat biasa menyebutnya sebagai Krakatoa. Merupakan salah satu gunung berapi di Indonesia yang terletak di Selat Sunda di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Gunung Krakatau memiliki kisah yang begitu terkenal dan mendunia karena kedahsyatan letusannya.
Para ahli dari Eropa pada abad 18 ketika jaman kolonial Hindia Belanda menduga bahwa Gunung Krakatau (813 m) pada saat itu merupakan sisa dari letusan besar sebuah gunung yang akhirnya menyisakan keadaan alam menjadi seperti saat itu. Dugaan ini diperkuat dengan naskah kuno yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi dengan judul “Pustaka Raja Parwa”. Naskah tersebut mengisahkan meletusnya Gunung Batuwara yang begitu dahsyat hingga memisahkan Pulau Jawa dan menciptakan Pulau Sumatera.
Diduga dari letusan Gunung Batuwara yang disebutkan pada naskah itu akhirnya menyisakan Pulau Rakata, Pulau Panjang (Rakata Kecil) dan Pulau Sertung yang terdapat pada tahun 1800-an. Lantas gunung yang ada di Pulau Rakata ini yang akhirnya dinamakan sebagai Gunung Krakatau.
Selain Gunung Krakatau, Pulau Rakata juga memiliki gunung lain yang lebih pendek yaitu Gunung Danan dan Gunung Perboewatan. Pada tahun 1680 diketahui bahwa Gunung Krakatau memiliki peningkatan aktivitas dengan mengalami letusan yang kecil. Gunung Perboewatan lantas aktif pada tahun 1880 dengan indikasi terdapatnya pengeluaran lava.
Setelah 200 tahun istirahat, diawali letusan kecil Gunung Krakatau pada 20 Mei 1883. Aktivitas letusan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya dengan letusan Krakatau pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan tersebut menghasilkan ledakan yang menggelegar dahsyat dan membuat wilayah Selat Sunda menjadi sangat mencekam.
Letusan Krakatau ini telah melemparkan batuan apung dan abu dengan peristiwa vulkanik yang bagaikan tanpa habis ketika itu. Letusan ini juga melenyapkan Gunung Danan dan Gunung Perboewatan dan menyisakan cekungan pada pulau Rakata.Akibat peristiwa ini setengah kerucut dari Gunung Krakatau juga ikut hancur.
Menurut dokumentasi yang ada peristiwa ini mengakibatkan kerusakkan yang luar biasa. Aktivitas vulkanik mampu melemparkan batuan hingga menuju ke Sri Lanka, Pakistan, India, Australia dan Selandia Baru. Suara letusannya terdengar sampai ke Australia dan kepulauan dekat Afrika dengan jarak sekitar 4600 km. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan hingga ke Hawaii, Amerika Tengah dan Semenanjung Arab dengan daya jangkau berjarak tujuh ribu kilometer.
Jumlah korban tewas hingga sekitar 36 ribu jiwa lebih dan lebih parahnya lagi di wilayah sekitar Jakarta dan Lampung mendapati langit gelap tertutup abu hingga beberapa hari. Hamburan debu dikonfirmasi juga menyebar hingga ke Norwegia dan New York. Peristiwa yang terjadi bukan hanya sekedar letusan gunung saja tetapi juga mengakibatkan longsoran bawah laut hingga terjadi Gelombang Tsunami. Dikabarkan pada saat itu sinar matahari terasa redup selama setahun.

Kisah tragis yang begitu dahsyat dari letusan Krakatau terjadi ketika teknologi sedang berkembang sehingga banyak dokumentasi internasional yang membahas tentang peristiwa ini. Tidak seperti letusan Gunung Tambora yang terlalu lampau dan terjadi di daerah pedalaman. Letusan Krakatau terjadi ketika teknologi sedang berkembang dan penduduk dunia sedang meningkat, tak heran bencana ini memakan korban jiwa yang cukup banyak dan akhirnya membuat penasaran para peneliti dari Eropa dan Amerika untuk meneliti Krakatau lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar