Rabu, 30 Mei 2012

pemriksaan sperma

Pemeriksaan sperma (lebih tepatnya analisis semen) adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur jumlah serta kualitas semen dan sperma seorang lelaki. Pengertian semen berbeda dengan sperma. Secara keseluruhan, cairan putih dan kental yang keluar dari alat kelamin lelaki saat ejakulasi disebut semen. Sedangkan 'makhluk' kecil yang berenang-renang di dalam semen di sebut sperma.
Analisis semen merupakan salah satu pemeriksaan lini pertama untuk menentukan kesuburan lelaki. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan apakah ada masalah pada sistim produksi sperma atau pada kualitas sperma, yang menjadi biang ketidaksuburan. Perlu diketahui, hampir setengah pasangan yang tidak berhasil memperoleh keturunan, disebabkan karena ketidaksuburan pasangan lelakinya.

Lelaki yang akan diambil semennya dalam keadaan sehat dan cukup istirahat. Tidak dalam keadaan letih atau lapar. Tiga atau empat hari sebelum semen diambil, pria tersebut tidak boleh melakukan aktifitas seksual yang mengakibatkan keluarnya semen. WHO bahkan merekomendasikan 2 sampai 7 hari harus puasa ejakulasi, tentunya tidak sebatas hubungan suami istri, tapi dengan cara apapun. Semen (sperma) dikeluarkan melalui masturbasi di laboratorium (biasanya disediakan tempat khusus).
 



Gambar : Tahap awal spermatozoa menempel di sel telur.

Selain sedikit ulasan psikologis tentang pengumpulan sperma ini maka ulasan teknis yang harus diketahui oleh calon pasien adalah sebagai berikut:
  1. Sebelum menjalani pemeriksaan pasien diminta tidak melakukan kegiatan sexual selama 3-5 hari, termasuk dalam hal ini adalah mimpi basah.
  2. Pengeluaran ejakulat dilakukan pagi hari dan harus langsung diperiksa dalam waktu 60 menit sejak dikeluarkan dengan cara masturbasi atau onani.
  3. Tidak diperkenankan memakai kondom, pelicin, sabun dan lain-lain karena bisa melemahkan bahkan membunuh spermatozoa.
  4. Sperma ditampung dalam wadah bermulut lebar yang bersih dan kering . Wadah harus dapat ditutup dengan baik agar sperma tidak tumpah.
  5. Catat waktu pengeluaran sperma tepat hingga menitnya. Juga laporkan kepada petugas jika ada sampel yang tumpah.


Gambar : Spermatozoa mulai memasuki sel telur

Pemeriksaan yang dapat d lakukan:

Pemeriksaan Makroskopis:
 
- Volume:
Dengan normal 2-5 – 5 mL, namun volume diluar range tersebut kurang dikaitkan dengan infertilitas.

Warna dan kekeruhan:
Sperma juga biasa diperiksa walaupun hal ini tidak berhubungan denga jumlah spermatozoa. Sperma normal berwarna putih atau kekuning-kunigan dan terlihat keruh
.
- Liquifaksi / Pencairan
Sperma yang baru dikeluarkan kental sekali dan akan mencair dalam waktu 10 – 20 menit di suhu ruangan. Apabila lewat 20 menit sperma belum mencair merupakan keadaan yang perlu dilaporkan.

- Kekentalan / Viskositas:
Bisa diamati dari panjangnya tetesan dengan normal < 2cm atau lamanya terbuat tetesan dengan normal < 2 detik.

- pH:
Diukur dengan kertas indikator dengan nilai normal 7.0 – 7.8.

Pemeriksaan makroskopis:

- Uji motilitas:
Untuk melihat jumlah persentase spermatozoa yang bergerak aktif dan tidak aktif.

- Uji vitalitas:
Untuk membedakan spermatozoa yang hidup atau mati diantara spermatozoa tidak aktif.

- Hitung jumlah:
Bertujuan menghitung jumlah spermatozoa dalam 1 mL. Jumlah normal spermatozoa adalah 20 juta per mL hingga 150 juta per mL. Jumlah spermatozoa kurang dari 20 juta per mL dianggap kurang memadai dalam hal fertilitas. Jumlah spermatozoa juga dinyatakan dalam jumlah per ejakulat dengan normal 40 – 300 juta per ejakulat.

- Morfologi:
Spermatozoa bertujuan untuk melihat bentuk-bentuk spermatozoa yang ada dan menentukan persentase bentuk abnormal yang ditemukan. Bentuk abnormal yang biasa ditemukan seperti kepala terlalu kecil / besar, ekor yang bengkok, tidak ada ekor, ada dua ekor, ekor amat pendek dll. Jika ditemukan lebih dari 20% bentuk abnormal maka kemungkinan tingkat fertilitas berkurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar